BACALAH : DUNIA MENANTIMU
CARA
MENGATUR WAKTU
Mengatur Kegiatan Sehari-hari
Adalah sangat disayangkan
apabila waktu yang kita miliki terbuang percuma. Apalagi bagi anak-anak dalam
usia remaja, karena banyak hal yang dilakukan dalam menggali sebanyak mungkin
potensi yang dimiliki sehingga kelak berguna bagi kesejahteraan hidup dimasa
mendatang. Namun banyak remaja yang tidak tahu bagaimana memanfaatkan waktu
seefektif mungkin. Terbukti masih banyak anak yang terihat melakukan
kegiatan-kegiatan yang semestinya tidak perlu dilakukan.Yakni kegiatan yang
berbau iseng yang menunjukkan ketidak tahuan mereka cara menggunakan waktu
luang secara tepat. Untuk dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara tepat,
maka perlu adanya jadwal kegiatan yang disusun sehingga apa yang dilakukan
tidak tanpa tujuan. Pada hakekatnya kegiatan anak-anak dibagi menjadi 3 (tiga)
jenis, yaitu :
1. Kegiatan rumah
2. Kegiatan sekolah
3. Kegiatan sosial
Kegiatan rumah mencakup mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk
memenuhi kewajiban anak sebagai anggota keluarga, membantu kesibukan orang tua
di rumah, antara lain : memberesi pekerjaan rumah tangga sehingga dapat
meringankan kesibukan orang tua sekaligus menunjukkan darma bakti kita terhadap
orang tua. Namun yang perlu diinggat disini bahwa, jangan sampai kegiatan
membantu pekerjaan orang tua ini menyita waktu dan tenaga anak sehingga
menyebabkan kegiatan lain yang semestinya diselesaikan anak menjadi terganggu. Kegiatan sekolah mencakup 2 hal yaitu :
a. Kegiatan intra
kurikuler, yaitu kegiatan belajar mengajar
b. Kegiatan ekstra
kurikuler, yaitu kegiatan sekolah yang berkaitan dengan pengembangan dan minat
anak terhadap bidang ketrampilan tertentu, misalnya : bidang kesenian, kepramukaan, dan sebagainya.
Disamping dua kegiatan tersebut masih terdapat satu kegiatan sekolah yang
harus diselesaikan oleh anak diluar jam pelajaran yakni berupa penyelesaian
tugas-tugas yang diberikan oleh guru mata pelajaran tertentu, misalnya:
pemberian tugas pekerjaan rumah (PR).
Kegiatan sosial mencakup kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan
pribadi anak sebagai mahluk sosial. Kegiatan ini antara lain meliputi pergaulan
anak dengan teman-temannya.
Kegiatan-kegiatan tersebut perlu dijaga kelangsungannya dan jangan sampai
antara kegiatan yang satu mengganggu kegiatan yang lain sehingga semuanya bisa
saling mendukung mewujudkan satu keberhasilan anak, baik dalam status sebagai
siswa maupun sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Karena anak masih dalam
status sebagai siswa yang tugas pokoknya belajar ( menimba ilmu ) demi
persiapan masa depannya, maka kegiatan utama yang perlu diselesaikan dan
memperoleh perhatian yang paling besar adalah meyelesaikan tugas-tugas yang
berkaitan dengan kegiatan sekolah. Dengan demikian dalam pembuatan jadwal
kegiatan sehari-hari pembagian porsi waktu terbanyak adalah menyelesaikan
kegiatan sekolah. Sebagai contoh jadwal kegiatan anak adalah sebagai berikut :
WAKTU
|
KEGIATAN
|
04.00
05.30- 06.00
06.00- 06.30
07.00- 13.30
13.30- 15.30
15.30- 17.00
17.00- 18.30
19.00- 21.00
21.00- 04.00
|
Bangun pagi, menunaikan sholat subuh (bagi
mereka yang menjalankan) dilanjutkan dengan membantu pekerjaan orang tua.
Berolah raga
Persiapan berangkat sekolah
Melakukan kegiatan belajar di sekolah
Istirahat siang
Kegiatan ekstra kurikuler di sekolah atau
kegiatan karang taruna
Kegiatan membantu orang tu
Belajar
Tidur
|
Mengatur Waktu Belajar
Jadwal kegiatan tersebut berlangsung selama
hari masuk sedangkan pada saat libur kegiatan sekolah bisa diganti dengan
kegiatan rekreasi atau membantu orang tua menurut keadaan. Apabila jadwal
kegiatan yang telah disusun tersebut ditaati pelaksanaannya secara disiplin
maka kecil kemungkinan bagi anak melakukan kegiatan iseng yang hanya
menimbulkan keresahan.
Kegiatan belajar merupakan kegiatan utama bagi seorang
belajar. Untuk memperoleh prestasi belajar yang tinggi harus didukung dengan
kegiatan belajar yang
rutin dengan frekuensi yang tetap. Hukum Jost mengemukakan bahwa belajar empat
hari masing-masing satu jam lebih efektif dari pada 4 jam dalam 1 hari. Hal ini
mengisaratkan kepada kita bahwa bukan masalah banyaknya waktu belajar yang kita
perlukan untuk meraih hasil yang maksimal melainkan keajegan dalam belajar yang
dibutuhkan dalam memperoleh hasil belajar yang maksimal. Oleh karena itu, perlu
kiranya menyiasati bagaimana mengatur waktu belajar sebaik mungkin agar
diperoleh hasil belajar yang maksimal.
Pemilihan waktu belajar yang tidak tepat hanya akan
menghasilkan kelelahan tanpa dapat menghasilkan prestasi yang diharapkan.
Sebagai contoh, apabila kita memilih waktu belajar sehabis menonton acara
televisi, misalnya maka kecenderungan mata menjadi lelah dan cepat mengantuk,
karena penglihatan telah terforsir pada saat menonton televisi akan semakin
tersiksa saat harus membaaa buku pelajaran. Belum masalah kesan yang diperoleh
dari isi tayangan televisi yang tidak mustahil akan lebih berkesan dan
berpengaruh pada kejiwaan si anak sehingga menghambat daya serap anak pada isi
pelajaran yang dibacanya.
Belajar memerlukan suasana yang mendukung, antara lain
badan yang segar, udara yang tidak terlalu panas, lingkungan yang tidak terlalu
bising serta suasana hati yang tenang. Tidak mungkin seorang anak bisa belajar
dengan baik apabila masih terdapat tugas dari orang tua atau dari pihak lain
yang dipercayakan kepadanya dan tugas tersebut belum terselesaikan. Demkian
pula keadaan ruangan serta lingkungan yang hiruk pikuk akan menyulitkan anak
berkonsentrasi pada materi yang dipelajari.
Ada beberapa contoh untuk dapat memilih waktu belajar
yang baik antara lain :
-
Seusai tidur
siang sekitar jam 16.00 sampai jam 17.00
-
Seusai subuh
sekitar jam 04.30 sampai jam 05.30
-
Seusai makan
malam sekitar jam 19.00 sampai jam 20.00
Waktu belajar yang efisien antara lain 1 sampai 2 jam. Apabila ingin menambah jam belajar
maka harus ada rentang waktu istirahat untuk mengendorkan saraf otak yang
terlalu tegang sehingga saat meneruskan belajar tubuh terasa segar kembali.
Berikut
ini kiat-kiat mengatur waktu yang ditulis leh Heanne Shay Schummm dalam buku
bejudual Sekolah? Siapa Takut ? berikut ini :
1. Tetapkan
Prioritas !
Kalau banyak yang harus dikerjakan, buatlah daftar apa yang harus
dan akan dikerjakan. Lalu, urutkan setiap tugas dalam urutan 1,2,3 dan
seterusnya menurut tingkat urgensi.
2. Jangan
Membenani diri dengan jadwal yang berlebihan !
Lakukanlah perubahan untuk mencapai prestasi secara bertahap.
Kalau terlalu banyak yang harus kita lakukan, kita dapat menjadi bingung dengan
jadwal tersebut.
3. Luangkah
waktu untuk membiasakan diri menjadi teratur !
Menjadi teratur membutuhkan pembiasaan yang cukup lama.
4.
Luangkan waktu untuk refreshing !
Waktu untuk penyegaran membantu Anda agar tetap sehat secara
mental dan fisik.
5.
Jangan Menunda-nunda !
Banyak orang menunda-nunda karena
suatu alasan. Mungkin tugas yang mereka hadapi terlalu sulit atau pekerjaan
tersebut membuat stress. Apapun penyebabnya, menunda-nunda bisa menjadi
kebiasaan buruk.
VII : Materi Konseling 5
CITA-CITA KARIRKU
Barangkali
sewaktu masih kecil kalian ditanya oleh bapak atau ibu, apa cita - citamu
bila sudah besar? Mungkin secara spontan jawaban polos kalian adalah : saya ingin menjadi dokter, guru, pengusaha
dan lain – lain. Kalau pertanyaan seperti itu diajukan sekarang, apakah jawaban
kalian ?
Sebagian
siswa seusia kalian lebih sering berpikir panjang dulu baru menjawab, itupun
dengan ragu dan malu, saya
bercita – cita sebagai .............
Bahkan ada diantara kalian yang tidak berani menyebutkan cita – cita.
Namun ada yang secara mantap dapat menjelaskan tentang cita – cita.
Mana yang lebih baik, tidak memiliki
cita – cita. Ragu dan malu dalam
mengungkap cita - cita. Atau mantap dan pasti memiliki
cita – cita ?
Cita - cita
bukanlah sekedar perwujudan harapan masa kecil, cita-cita adalah bagian dari perkembangan karier
manusia. Cita - cita bukanlah hanya khayalan
anak - anak tentang masa depan. Cita - cita sering disebut dengan impian. Impian
yang ingin dicapai dimasa datang. Semakin besar impian atau cita - cita, makin besar pula motivasi atau
semangat untuk meraih. Dengan kata lain cita - cita
harus memberi dampak yang besar, yakni berkobarnya semangat untuk berjuang melawan
kesulitan yang datang. Bila cita - cita tidak memberikan dampak emosional berupa
terpompanya semangat mencapai dan menggapai, maka cita-cita akan berubah menjadi sekedar khayalan belaka.
Kita wajib memiliki cita - cita. Bahkan Ustadz, guru, orang tua dan
tokoh masyarakat atau tokoh agama memberi nasihat pada kita agar
jangan pelit dengan cita - cita.
Bercita-citalah sebanyak - banyaknya. Jangan hanya
satu atau dua cita - cita. Ada
pesan gantungkan harapan kalian setinggi
langit, dan kejarlah. Jika kalian tidak menggapai matahari, kalian akan
tersangkut di pepohonan atau di atas gunung yang tinggi, atau bahkan mencapai
bintang.
Memiliki cita
- cita adalah wajib bagi
manusia, bagaimana seharusnya kita menentukan
cita-cita? Apakah masih sama seperti anak TK/SD yang ditanya oleh gurunya tentang cita - cita? Tentu saja harus
berbeda. Anak kecil sering kali menyebutkan cita-cita mereka kelak kalau sudah
besar, misalnya ingin menjadi dokter, petani, pilot pesawat, guru, tentara, dan
lain-lain. Mereka juga senang bermain peran, misalnya bermain
dokter-dokteran, penokohan figur
idola, guru,polisi,artis terkenal dan
lain-lain sesuai berbagai peran yang dilihat di lingkungannya. Jabatan atau pekerjaan yang mereka inginkan atau
perankan pada umumnya masih sangat dipengaruhi oleh lingkungan, misalnya dari
TV, video, majalah, atau tontonan maupun tokoh-tokoh yang pernah melintas dalam
kehidupan anak. Maka tidak mengherankan jika pekerjaan ataupun jabatan yang
mereka sebut masih asal sebut saja.
Kalian kini telah memiliki wawasan dan pemahaman yang lebih baik tentang
keadaan kalian baik kelebihan maupun kekurangannya. Kalian telah melihat begitu
banyak pekerjaan di sekitar kita dengan berbagai syarat tertentu untuk meraih baik
mensyaratkan keadaan fisik tertentu, seperti tinggi badan, kondisi badan, dan
lain - lain.
Kenyataan sehari-hari, kita
menjumpai bahwa ada
persyaratan-persyaratan untuk memasuki dunia pekerjaaan tertentu.
Misalnya, syarat untuk menjadi
Tentara Nasional Indonesia, adalah tinggi badan 160 cm, tidak buta warna, ijazah minimal dari SMA/sederajat, dan lainnya. Ini berarti orang yang tidak memiliki
seluruh syarat itu tidak bisa mendaftar bekerja menjadi TNI. Orang yang
tingginya hanya 150 cm, tentu tidak tepat bercita - cita menjadi tentara. Orang yang cedal jangan bercita - cita menjadi guru atau penyiar.
Namun demikian, bukan berarti bahwa kita
membatasi cita - cita. Kita tidak membatasi cita - cita, tetapi memilih cita - cita yang sesuai dengan keadaan atau kondisi
kita. Baik kondisi fisik maupun mental. Kini kewajiban kalian adalah memahami kondisi
atau keadaan fisik dan mental diri untuk dijadikan pertimbangan dalam
menentukan cita- cita. Bagaimana kondisi fisik
kalian? Apakah kondisi fisik itu merupakan kondisi yang permanen? Ataukah
kondisi itu bisa berubah dimasa mendatang, baik dengan pengobatan maupun
dengan usaha lain? Kondisi mental juga
sangat berpengaruh dalam menentukan suatu pekerjaan masa depan, seperti
minat,bakat, perasaan, keingingan, keberanian berbicara, gagap dalam berbicara,
perasaan jijik terhadap sesuatu, dan lain - lain.
Kondisi
fisik atau mental yang kalian miliki sekarang adalah sesuatu yang patut kalian
syukuri. Itulah karunia Allah SWT yang wajib dikembangkan. Keadaan yang mungkin
dipandang sebagai kekurangan bisa jadi
merupakan sesuatu yang bisa dikembangkan menjadi kelebihan. Coba kalian lihat
di televisi, banyak sekali bintang sinetron, pelawak, yang menurut pandangan
umum begitu sempurna. Kita kemudian memiliki standar penilaian, orang yang
sempurna.
Coba kita
lihat lebih teliti lagi, diantara bintang bintang yang sering muncul di
televisi, ada yang sebenarnya secara
fisik tidak sempurna. Ada yang tubuhnya kecil, ada yang kulitnya hitam legam,
ada yang tubuhnya tambun, ada yang mukanya tongos
seperti Thukul Arwana. Dalam kehidupan sehari - hari juga banyak contoh, orang
yang menurut penilaian umum memiliki banyak kekurangan ternyata bisa sukses
pada kehidupannya.
Alangkah
baiknya bila kita tahu persis, memahami tentang diri kita baik fisik maupun
mental, baik kelebihan maupun kekurangannya. Kita menerima dengan lapang hati
keadaan atau kondisi itu, dan berusaha memanfaatkan kondisi tersebut untuk
bekal menggapai cita - cita atau. Bagaimanakah
cara menilai keadaan agar dapat
diperbaiki ? Dalam kehidupan ini tidak pernah
ada yang sempurna, setiap orang pasti banyak kelemahan- kelemahan tetapi jangan
pernah lupa dibalik kelemahan- kelemahan masih tersisa kebaikan- kebaikan. Mengembangkan kelemahan- kelemahan pada
seseorang untuk menjadi kelebihan- kelebihan bukan sesuatu yang mudah
dikerjakan, namun bisa dilakukan dengan ketekunan, kesabaran dan kerja keras.
Sebab tanpa ketekunan, kesabaran dan kerja keras mustahil kelemahan akan
menjadi keunggulan atau potensi diri.
Cara menggapai cita-cita
sebagai berikut :
1. Jaga dan tumbuhkan cita-cita Anda
dengan cara tidak merasa puas setelah Anda mendapatkan sedikit kenikmatan,
namun tetap menjaga dan mengembangkan apa yang telah Anda dapatkan
2. Kembangkan kepribadian Anda untuk
menjadi yang lebih baik lagi, orang yang sukses adalah orang yang mau dan
berusaha untuk menjaga kepribadian yang baik, dan mau untuk mengembangkannya
sampai dirinya benar-benar telah mampu untuk mewujudkan cita-citanya
3. Berfikir maju. Banyak orang yang
merasa bahwa dirinya adalah yang terbaik diantara yang lain, perspektif semacam
itu harus dihilangkan. Kuatkan keyakinan Anda dan selalu berhati-hati
4. Kembangkan kemampuan yang telah
Anda miliki sampai Anda benar benar tidak kuat untuk mengembangkannya
5. Tingkatkan ilmu pengetahuan yang
Anda kuasai. Ilmu pengetahuan sangat penting dalam proses untuk menggapai cita-cita,
maka dari itu tingkatkan ilmu pengetahuan Anda agar cita-cita yang Anda
inginkan bisa terwujud
6. Sukai cita-cita yang akan Anda
raih. Dengan begitu, Anda akan meraih kebahagian dan cita-cita yang Anda
impikan
7. Tidak menyerah dan selalu mencoba
8. Menatap kedepan untuk lebih baik
dan menjadikan sejarah serta kegagalan sebagai pelajaran untuk menuju
kesuksesan
9. Berdo’a
VII : Materi Konseling 4
ADAPTASI DI LINGKUNGAN SEKOLAH BARU
Penyesuaian diri terhadap lingkungan
sekolah yang baru
Setiap memasuki
lingkungan yang baru kita pasti akan merasa asing, karena belum mengenalnya,
sering merasa bingung, malu takut serta ragu-ragu , banyak ditemukan hal-hal
yang baru yang tidak ditemukan pada waktu sekolah di Sekolah Dasar SD /MI. Ada
peribahasa yang mengatakan “ kalau tak kenal maka tak sayang” ini berarti kita
harus mengenal lingkungan yang baru supaya dapat menyayanginya atau merasa
senang. Kalau kita sayang dan merasa senang maka kita akan betah tinggal di
dalam sekolah yang baru sehingga kita dapat bermain dengan gembira, belajar
dengan tenang dan dapat meraih prestasi yang optimal.
Untuk itu kita harus mengenal dan memahami segala sesuatu yang ada
dilingkungan sekolah yang baru kita
masuki, antara lain :
1.
Mata pelajaran yang ada adalah:
a.
Pendidikan Agama
b.
PPKn
c.
Bahasa dan Sastra Indonesia
d.
Bahasa Inggris
e.
Bahasa Jawa
f.
Matematika
g.
IPA, antara lain: Biologi dan Fisika
h.
IPS, anatar lain : Sejarah, Geografi, Ekonomi
i.
Pendidikan Kesenian
j.
Pendidikan Jasmani dan Kesehatan
k.
Ketrampilan/Teknologi Informasi dan Komunikasi
l.
Ketrampilan Elektronika
m.
Tata Boga
n.
Tata Busana/ Menjahit
o.
Pembiasaan
p.
Kegiatan ekstrakurikuler.
2.
Guru-guru yang mengajar
3.
Ruang Perpustakaan
4.
Ruang Laborat
5.
Kamar mandi / WC
6.
Ruang
Kepala Sekolah, TU, Guru, BK
7.
Teman-teman satu kekas.
Selain guru mata pelajaran , ada juga guru khusus yang membimbing siswa
apabila menemui kesulitan atau problem dalam belajar, bergaul, dan juga
membantu siswa dalam mengembangkan bakat minat yang dimilikinya, guru tersebut
adalah Guru BK / Konselor sekolah. Di setiap kelas terdapat guru yang
bertanggung jawab mengurus dan mengawasi kelasnya, juga berfungsi sebagai
pengganti orang tua di sekolah, yang disebut dengan nama wali kelas .
Di Sekolah yang baru kita akan mempunyai teman-teman yang berasal dari
sekolah lain, juga kakak kelas,
sebaiknya kita harus bisa bergaul dengannya. Selain itu ada juga kegiatan di
luar jam pelajaran sekolah yang disebut dengan ekstrakurikuler, seperti :
pramuka, PMR, PKS, kesenian, bela diri, keagamaan, kita bebas memilih kegiatan
tersebut sesuai dengan bakat dan hobi kita masing-masing.
Belajar menyesuaikan diri dengan
lingkungan sekolah baru
Salah satu aspek keberhasilan seseorang dalam belajar dilingkungan yang
baru, adalah harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang akan ditempati. Agar bisa belajar dengan baik dan
supaya bisa mencapai hasil belajar yang optimal. Dengan demikian maka siswa
harus tahu seluk beluk, serta dapat menyesuaikan dengan : Tata tertib sekolah,
peraturan sekolah, sifat atau cara mengajar Bapak/ Ibu guru, sifat-sifat
teman-teman satu kelas dan sifat kakak kelasnya. Agar dapat mengikuti kegiatan
belajar mengajar di Sekolah tanpa banyak permasalahan, atau hambatan.
Dengan belajar menyesuaikan diri dengan berbagai komponen-komponen
sekolah dilingkungan yang baru, maka harapannya para siswa dapat belajar dengan
lebih efektip dan dapat berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuanya
masing-masing. Adapun sekolah merupakan tempat terjadinya proses kegiatan
belajar mengajar.
Keberhasilan
belajar di Sekolah , selain harus dapat belajar menyesuaikan diri dengan
komponen-komponen lingkungan sekolah, juga sangat tergantung dari cara belajar
yang harus dilakukan oleh siswa, berikut ini ada beberapa cara belajar di
Sekolah, antara lain :
Persiapan belajar dalam mengikuti KBM
Dalam mengikuti
kegiatan belajar mengajar, maka siswa sebaiknya melakukan:
a.
Doa, sebelum pelajaran dimulai , agar diberi
kemudahan dalam mengikuti pelajaran.
b. Menyiapkan diri sebelum guru masuk kelas,
seperti menyiapkan buku dan alat-alat tulis.
c. Memperhatikan dan mendengarkan penjelasan guru
mengenai pelajaran yang sedang dibahas dengan penuh konsentrasi sehingga dapat
memahami dan mengerti dengan mudah.
d.
Bertanya kepada guru bila belum jelas atau
belum mengerti.
e.
Mencatat hal-hal yang penting.
f. Diskusikan dengan teman-teman materi yang
dipelajari, sehingga memperoleh pemahaman dan kesamaan pendapat
g.
Membuat kesimpulan dari materi pelajaran yang
dibahas.
Belajar mandiri.
Belajar mandiri adalah proses belajar
yang dilakukan oleh siswa sendiri, tanpa harus disuruh oleh orang lain. Dengan
membahas materi pelajaran yang ada dibuku-buku
pelajaran atau buku modul, paket, pada jam-jam kosong, serta mendapat
tugas dari guru atau guru piket. Belajar mandiri dapat dilakukan di Sekolah
maupun di rumah, dari hasil belajar mandiri siswa akan mampu membuat suatu
kesimpulan dan menyelesaikan tugas-tugas dari guru. Pengertian belajar mandiri
menurut Hiemstra adalah sebagai berikut:
1.
Setiap individu berusaha
meningkatkan tanggung jawab untuk mengambil berbagai keputusan.
2.
Belajar mandiri dipandang sebagai
suatu sifat yang sudah ada pada setiap orang dan situasi pembelajaran.
3.
Belajar mandiri bukan berarti
memisahkan diri dengan orang lain.
4.
Dengan belajar mandiri, siswa
dapat mentransferkan hasil belajarnya yang berupa pengetahuan dan keterampilan
ke dalam situasi yang lain.
5.
Siswa yang melakukan belajar
mandiri dapat melibatkan berbagai sumber daya dan aktivitas, seperti: membaca
sendiri, belajar kelompok, latihan-latihan, dialog elektronik, dan kegiatan
korespondensi.
6.
Peran efektif guru dalam belajar
mandiri masih dimungkinkan, seperti dialog dengan siswa, pencarian sumber,
mengevaluasi hasil, dan memberi gagasan-gagasan kreatif.
7. Beberapa institusi pendidikan
sedang mengembangkan belajar mandiri menjadi program yang lebih terbuka
(seperti Universitas Terbuka) sebagai alternatif pembelajaran yang bersifat
individual dan programprogram inovatif lainnya.
Belajar kelompok
Belajar kelompok
merupakan kegiatan belajar bersama-sama antara beberapa siswa dalam satu
kelompok, untuk membahas materi pelajaran yang diberikan atau ditugaskan oleh
gurunya. Anggota kelompok sebaiknya antara tiga sampai enam orang siswa, agar
tidak terlalu ramai, dan dapat membahas materi pelajaran dengan baik. Dalam
kegiatan belajar kelompok biasanya diadakan diskusi kelompok yaitu membahas
persoalan tertentu secara bersama-sama dengan menampung berbagai pendapat dari
masing-masing anggota kelompok, kemudian diambil suatu kesimpulan atau hasil pendapat kelompok.
Contoh
salah satu cara belajar kelompok antara lain :
a.
Menentukan anggota dan jumlahnya
b.
Menentukan topik dan membaca buku atau modul
pelajaran bersama-sama.
c.
Merangkum atau meringkas materi pelajaran
d.
Mengerjakan tugas-tugas atau latihan-latihan
bersama.
e. Mengadakan tanya jawab, satu siswa bertanya
kepada siswa lainya memberi jawaban dan
dapat dilakukan secara bergantian. Mengadakan
tanya jawab, membahas pokok-pokok persoalan tersebut diatas kemudian menampung
berbagai pendapat dari anggota kelompok kemudian membuat kesimpulan.



